Selasa, 30 November 2021

PEREDARAN UANG (JUB)

 Yuk Mari Belajar Ekonomi Moneter !
 
                                                          
                                                               Peredaran  Uang  (JUB)





A. Jumlah Uang Beredar 

JUB atau penawaran uang  (money supply) adalah seluruh persediaan uang dalam suatu perekonomian. Dalam salah satu buku teks disebutkan JUB adalah total persediaan uang yang beredar luas di masyarakat. JUB dapat mencakup uang kertas, uang logam dan saldo yang disimpan dalam rekening giro dan tabungan, dan pengganti uang lainnya.

Menurut BI, uang beredar adalah kewajiban sistem moneter (Bank Sentral, Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat/ BPR) terhadap sektor swasta domestik (tidak termasuk pemerintah pusat dan bukan penduduk). Kewajiban yang menjadi komponen Uang Beredar terdiri dari uang kartal yang dipegang masyarakat (di luar Bank Umum dan BPR), uang giral, uang kuasi yang dimiliki oleh sektor swasta domestik, dan surat berharga selain saham yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun (www.bi.go.id).

Selanjutnya terdapat empat jenis JUB yaitu M0, M1, M2 dan M3. Penjelasan dari keempat JUB sebagai berikut (Rosyidi, 2009). Pertama, M0 hanya terdiri dari uang kertas dan uang logam yang kita pegang sehari-hari yang tidak dipegang oleh bank maupun pemerintah. Kedua, M1 adalah M0 ditambah simpanan dalam bentuk rekening koran (demand deposit). Pengertian demand deposit adalah tabungan yang kita  miliki di  bank yang dapat  kita carikan  sewaktu-waktu dan merupakan perhitungan jumlah uang beredar yang paling likuid.  Ketiga, M2 adalah M1 + tabungan + deposito berjangka (time deposit) dalam jumlah kecil pada bank-bank umum.


BI mendefinisikan uang beredar arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2) (www.bi.go.id). M1 meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi Rupiah). M2 meliputi M1, uang kuasi (mencakup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.


Menurut BI, faktor-faktor uang mempengaruhi uang beredar adalah Aktiva Luar Negeri Bersih (Net Foreign Assets / NFA) dan Aktiva Dalam Negeri Bersih (Net Domestic Assets / NDA) . Aktiva Dalam Negeri Bersih antara lain terdiri dari Tagihan Bersih Kepada Pemerintah Pusat (Net Claims on Central Government / NCG) dan Tagihan kepada sektor lainnya (sektor swasta, pemeritah daerah, lembaga keuangan dan perusahaan bukan keuangan) terutama dalam bentuk pinjaman yang diberikan.


1. Uang Beredar Dalam Arti Sempit (M1)


Uang beredar dalam arti sempit (M1) didefinisikan sebagai uang kartal
ditambah dengan uang giral (currency plus demand deposits).
M1 = C + DD
Dimana:
M1 = Jumlah uang beredar dalam arti sempit
C = Currency (uang cartal)
DD = Demand Deposits (uang giral)
Uang giral (DD) di sini hanya mencakup saldo rekening koran/ giro milik masyarakat umum yang disimpan di bank. Sedangkan saldo rekening koran milik bank pada bank lain atau bank sentral (Bank Indonesia) ataupun saldo rekening koran milik pemerintah pada bank atau bank sentral tidak dimasukan dalam definisi DD. Satu hal lagi yang penting untuk dicatat mengenai DD ini adalah bahwa yang dimaksud disini adalah saldo atau uang milik masyarakat yang masih ada di bank dan belum digunakan pemiliknya untuk membayar/ berbelanja.
Pengertian jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) bahwa uang beredar adalah daya beli yang langsung bisa digunakan untuk pembayaran, bisa diperluas dan mencakup alat-alat pembayaran yang “mendekati” uang, misalnya deposito berjangka (time deposits) dan simpanan tabungan (saving deposits) pada bank-bank. Uang yang disimpan dalam bentuk deposito berjangka dan tabungan ini sebenarnya adalah juga adalah daya beli potensial bagi pemiliknya, meskipun tidak semudah uang tunai atau cek untuk menggunakannya (Boediono, 1994: 3-5)


2. Uang Beredar Dalam Arti Luas (M2).


Berdasarkan sistem moneter Indonesia, uang beredar M2 sering disebut juga dengan likuiditas perekonomian. M2 diartikan sebagai M1 plus deposito berjangka dan saldo tabungan milik masyarakat pada bank-bank, karena perkembangan M2 ini juga bisa mempengaruhi perkembangan harga, produksi dan keadaan ekonomi pada umumnya.
M2 = M1 + TD + SD
Dimana:
TD = time deposits (deposito berjangka)
SD = savings deposits (saldo tabungan)
Definisi M2 yang berlaku umum untuk semua negara tidak ada, karena halhal khas masing-masing negara perlu dipertimbangkan. Di Indonesia, M2 besarnya mencakup semua deposito berjangka dan saldo tabungan dalam rupiah pada bankbank dengan tidak tergantung besar kecilnya simpanan tetapi tidak mencakup deposito berjangka dan saldo tabungan dalam mata uang asing (Boediono, 1994:5-6).

 

3. Uang Beredar Dalam Arti Lebih Luas (M3).

Definisi uang beredar dalam arti lebih luas adalah M3, yang mencakup semua deposito berjangka (TD) dan saldo tabungan (SD), besar kecil, rupiah atau mata uang asing milik penduduk pada bank oleh lembaga keuangan non bank. Seluruh TD dan SD ini disebut uang kuasi atau quasi money.
M3 = M2 + QM
Dimana :
QM = quasi money
Di negara yang menganut sistem devisa bebas (artinya setiap orang boleh memiliki dan memperjualbelikan devisa secara bebas), seperti Indonesia, memang sedikit sekali perbedaan antara TD dan SD dalam rupiah dan TD dan SD dalam dollar. Setiap kali membutuhkan rupiah dollar bisa langsung menjualnya ke bank, atau sebaliknya. Dalam hal ini perbedaan antara M2 dan M3 menjadi tidak jelas. TD dan SD dollar milik bukan penduduk tidak termasuk dalam definisi uang kuasi (Boediono, 1994:6).


B. Teori - Teoroi Uang Beredar 


A.Teori Kuantitas mengenai Uang (Quantity Teory of Money)


 Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan sekaligus penawaran akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah hubungan antara penawaran uang (jumlah uang beredar) dengan nilai uang (tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat konsepsi (teori) mereka mengenai permintaan akan uang. Perubahan jumlah uang beredar atau penawaran uang berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan nilai uang (Boediono, 1994:17)


B.Teori Cambridge (Marshall-Pigou)

  

  Teori Cambridge, berpokok pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (mean of exchange). Karena itu, teori-teori Klasik melihat kebutuhan uang (permintaan akan uang) dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi. Teori Cambridge mengatakan bahwa kegunaan dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang adalah karena uang (berbeda dengan bentuk kekayaan lain) mempunyai sifat likuid sehingga dengan mudah bisa ditukarkan dengan barang lain. Uang dipegang atau diminta oleh seseorang karena sangat mempermudah transaksi atau kegiatan-kegiatan ekonomi lain dari orang tersebut (sering disebut sebagai faktor “convenience’). Teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan akan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncanakannnya. Teoritisi Cambridge mengatakan bahwa permintaan selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor-faktor kelembagaan, juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga masyarakat, dan ramalan/harapan (expectations) dari para warga masyarakat mengenai masa mendatang. Faktor-faktor lain ini mempengaruhi
permintaan akan uang seseorang, dan demikian juga mempengaruhi permintaan akan uang dari masyarakat secara keseluruhan (Boediono, 1994).


C. Teori Keynes


  Teori uang Keynes adalah teori yang bersumber pada teori Cambridge, tetapi Keynes memang mengemukakan sesuatu yang betul-betul berbeda dengan teori moneter tradisi Klasik. Pada hakekatnya perbedaan ini terletak pada penekanan oleh Keynes pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of value dan bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini kemudian terkenal dengan nama teori Liquidity Preference (Boediono, 1994:27) Menurut Keynes, ada tiga tujuan masyarakat memegang uang, yaitu:

 

1. Tujuan transaksi


Keynes tetap menerima pendapat golongan Cambridge, bahwa orang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksi-transaksi yang dilakukan, dan permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin besar tingkat pendapatan nasional smakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan uang untuk memnuhi tujuan transaksi. Demikian pula Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang untuk tujuan transaksi inipun tidak merupakan sutu proporsi yang konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga.


 2.Tujuan berjaga-jaga


Keynes juga membedakan permintaan akan uang untuk tujuan melakukan pembayaran-pembayaran yang tidak reguler atau yang diluar rencana transaksi normal, misalnya untuk pembayaran keadaan-keadaan darurat seperti kecelakaan, sakit, dan pembayaran yang tak terduga lain. Permintaan uang seperti ini disebut dengan permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga (precautionary motive). Menurut Keynes permintaan akan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang utuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan tingkat

bunga.


3. Tujuan spekulasi


Motif dari pemegangan uang untuk tujuan spekulasi adalah terutama bertujuan untuk memperoleh “keuntungan” yang bisa diperoleh dari seandainya si pemegang uang tersebut meramal apa yang akan terjadi dengan betul.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 







PASAR UANG

 Yuk Mari Belajar Ekonomi Moneter !

                                                                      Pasar Uang  

                        

                                    




pasar uang adalah kegiatan perdagangan surat berharga (efek) untuk memenuhi permintaan dan penawaran dana dalam jangka waktu pendek tanpa batasan tempat. Karena periode tempo pasar uang sangat pendek dan tujuan utamanya untuk membantu orang yang memerlukan dana, sehingga nama lain pasar uang adalah pasar kredit jangka pendek.

Ciri-ciri pasar uang adalah periode temponya sangat pendek sehingga hanya bisa memenuhi permintaan dan penawaran dana dibutuhkan dalam jangka pendek. Mekanisme pasar uang dikhususkan untuk menjembatani antara pihak memerlukan dana dengan orang dengan dana berlebih.

A. Fungsi Pasar Uang 

     Keberadaan pasar uang membawa manfaat pada banyak pihak, baik investor, pengusaha, dan pemerintah. Adapun fungsi pasar uang adalah sebagai berikut;

1. Mempermudah Emiten Memperoleh Bantuan Dana Jangka Pendek

  Pertama bagi pihak emiten, fungsi pasar uang adalah membantu perusahaan dalam mendapatkan suntikan modal dalam jangka waktu pendek. Pihak emiten tidak perlu bingung dalam mencari tambahan modal atau investor. Karena adanya pasar uang membuat perusahaan dipertemukan dengan pemodal yang memiliki kelebihan dana.

2. Meningkatkan Laju Pembangunan Negara

   Beberapa instrumen pasar uang adalah dijual dan diterbitkan oleh pemerintah dalam rangka mencari suntikan modal dari masyarakat untuk keperluan pembangunan negara. Ketika masyarakat berperan serta dalam menanamkan modalnya di instrumen pasar uang milik negara, maka mereka telah turut aktif dalam mendukung kemajuan pembangunan negara.

3. Menghimpun Dana Masyarakat yang Berlebih

  Pasar uang adalah sarana tepat dalam mempertemukan pengusaha sebagai pihak yang memerlukan modal dan masyarakat sebagai pihak kelebihan dana. Sehingga kebutuhan antara investor dan perusahaan emiten dapat terpenuhi dengan adanya pasar uang. Tidak heran jika salah satu fungsi pasar uang adalah menghimpun dana masyarakat yang berlebih.

4. Mencegah Terjadinya Krisis

  Keberhasilan pasar uang mampu mempengaruhi mobilitas keuangan dan kebijakan moneter. Pasar uang dalam bank sentral berfungsi untuk mengendalikan kestabilan laju sistem perbankan. Sehingga fungsi pasar uang adalah mencegah terjadinya krisis uang atau ekonomi dalam suatu negara.

5. Menyediakan Opsi Investasi Low Risk Bagi Investor

 Terakhir, fungsi pasar uang adalah menyediakan opsi investasi minim risiko, utamanya bagi investor risk verse. Tidak seperti pasar modal, transaksi di pasar uang jauh lebih stabil dengan laba pasti. Hal tersebut dikarenakan sistem investasinya mirip dengan hutang piutang, tapi dengan janji pertambahan bunga hingga masa redemption-nya tiba. 


B. Transaksi yang Terjadi dalam Pasar Uang

Di dalam pasar uang terdapat berbagai macam transaksi yang dijadikan opsi dalam melakukan perdagangan. Jenis transaksi yang dapat Anda pilih dalam pasar uang adalah di bawah ini;

1. Pasar Uang Antar Bank

    Pasar uang antar bank merupakan salah satu transaksi dalam pasar uang paling sering dijumpai. Perdagangan pasar uang sebagian besar melibatkan lembaga-lembaga perbankan yang saling meminjam dana satu sama lain demi memenuhi kebutuhan nasabahnya.

2. Jual Beli Sertifikat Utang

   Transaksi pasar uang berikutnya yaitu melakukan jual beli sertifikat utang. Pihak pemerintah atau bank sentral menerbitkan surat utang (efek) kepada bank umum untuk dibeli sebagai suntikan modal bank sentral. Begitu pula sebaliknya, bank umum menjual surat utang kepada bank sentral agar memperoleh dana.

3. Transaksi Sertifikat Deposito

    Sebuah transaksi dimana pihak bank menerbitkan surat berharga untuk dibeli nasabah dengan nominal tertentu, namun sertifikat tersebut dapat dipindahtangankan. Sehingga jenis transaksi tersebut dalam pasar uang adalah sertifikat deposito.

4. Pasar Valuta Asing

    Pasar valuta asing adalah transaksi jual beli valuta asing untuk ditukarkan dalam mata uang rupiah atau sebaliknya. Karena investor tidak hanya dari dalam negeri saja, sehingga pasar valuta asing membantu proses transaksi pasar uang antar negara.

C. Macam-Macam Instrumen Pasar Uang

    Setelah mengetahui pengertian pasar uang, fungsi, serta perbedaan pasar uang dan pasar modal, apakah Anda sudah tertarik berinvestasi di pasar uang? Ada beberapa macam instrumen pasar uang di Indonesia yang dapat Anda pilih, di antaranya;

1. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

    Pihak pemerintah mengeluarkan instrumen pasar uang adalah berupa Sertifikat Bank Indonesia (BSI). Surat utang yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dalam jangka waktu 1-3 bulan menggunakan sistem diskonto dan imbal hasilnya berupa bunga.Anda yang berinvestasi dalam instrumen ini tidak sekedar mendapat profit saja. Namun turut membantu Bank Indonesia dalam mengontrol nilai rupiah agar tetap stabil. Karena penjualan SBI mengakibatkan peredaran uang menurun.

2. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)

          Surat Berharga Pasar Uang adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh bank sebagai surat pelunasan utang atas persetujuan (tanda tangan) nasabah. Proses penerbitan instrumen ini melibatkan Bank Indonesia, bank umum atau lembaga keuangan lainnya yang menerapkan sistem diskonto.

 3. Call Money

     Call money merupakan instrumen pasar uang yang berfungsi untuk mengalihkan sementara kelebihan uang jangka pendek dari bank. Jatuh tempo call money sangat singkat hanya tujuh hari saja.

 4. Sertifikat Deposito

           Sertifikat deposito adalah surat berharga yang diterbitkan oleh bank dengan jumlah tertentu dan bisa dipindah tangankan. Instrumen ini sangat mudah diperjualbelikan karena surat atas tunjuk. Oleh sebab itu, instrumen yang mudah diperjualbelikan dalam pasar uang adalah sertifikat deposito.

 5. Treasury Bills

     Treasury Bills atau T-Bills merupakan instrumen pasar uang berupa penerbitan surat utang oleh pemerintah untuk dibuka kepada masyarakat luas dalam jangka waktu pendek. Instrumen ini seringkali disebut sebagai surat obligasi pemerintah.

 6.   Commercial Paper

            Commercial Paper merupakan perdagangan inventaris atau biaya pengelolaan modal kerja dalam waktu pendek. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai pilihan pengusaha untuk mendapatkan tambahan modal. Oleh karena itu, instrumen pasar uang adalah commercial paper.

7. Banker’s Acceptance

     Banker’s Acceptance merupakan instrumen pasar uang sebagai solusi atas permasalahan gagal bayar dari perdagangan luar negeri seperti ekspor atau impor. Bentuk Banker’s Acceptance semacam wesel berjangka dilegalkan dengan cap accepted.

8.  Instrumen Pasar Uang Syariah

    Terakhir instrumen pasar uang adalah surat berharga bersifat syariah. Ada beragam pilihan pasar uang syariah antara lain Sertifikat Bank Indonesia Syariah SBIS, Repurchase Agreement (Repo) SBSN, Repurchase Agreement (Repo) SBIS, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Instrumen Pasar Uang Antarbank Syariah ( PUAS ), dan surat berharga lain yang mudah dicairkan.


D. Tujuan Pasar Uang 

     Tujuan pasar uang utamanya adalah untuk mempertemukan para pemilik dana dengan pihak yang membutuhkan dana. Secara spesifik, berikut ini adalah beberapa tujuan pasar kredit jangka pendek, ditinjau dari sisi funder maupun consumer;

1. Dari Sisi Funder

  • Tindakan spekulasi, yaitu pendekatan investasi dimana investor menanamkan dana untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat.
  • Bertujuan untuk membantu pihak lain yang sedang membutuhkan pendanaan jangka pendek.
  • Bertujuan untuk memperoleh pendapatan dari dana yang dipinjamkan dengan tingkat bunga tertentu.

 2. Dari Sisi Consumer

  • Untuk memenuhi kebutuhan moda kerja.
  • Untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek.
  • Untuk memenuhi keperluan likuiditas.

 E. Para Pelaku Pasar Uang

      Pada pasar kredit jangka pendek terdapat beberapa pelaku pasar yang memiliki peranan masing-masing. Berikut ini adalah beberapa pelaku pasar tersebut:

1. Lembaga Keuangan

   
    Lembaga keuangan atau bank komersial berperan dalam menerbitkan instrumen keuangan dan menjualnya kepada masyarakat, perusahaan asuransi, perusahaan dana pensiun, dan sesama lembaga keuangan lainnya.Dengan kata lain, lembaga keuangan memiliki peran sebagai perantara antara unit surplus dengan unit defisit yang membutuhkan dana.

2. Future Exchanges

Secara umum, ada dua jenis future exchanges, yaitu;

  • Money market future contracts, ini merupakan persetujuan untuk menjual atau membeli surat berharga di pasar kredit jangka pendek sesuai dengan harga dan tanggal tertentu yang telah disepakati.
  • Money market future options, ini merupakan pemberian hak kepada suatu pihak untuk menjual atau membeli money market future contracts pada harga tertentu dan sebelum tanggal tertentu.
  •  

3. Pemerintah

 

  Pemerintah pusat maupun daerah, akan membutuhkan dana yang besar untuk mendanai proyek-proyek pemerintah. Dan untuk memperoleh dana tersebut, pemerintah berperan dalam pasar kredit jangka pendek dengan menerbitkan surat berharga jangka pendek, misalnya obligasi.






                                                                Daftar Pustaka


https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/pasar-keuangan/default.aspx

https://www.gurupendidikan.co.id/pasar-uang/

https://deden08m.files.wordpress.com/2016/09/materi-2-pengertian-dan-inst-pasar-uang.pdf

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132318570/pendidikan/pasar-uang.pdf




 












3

3



   



1.      

MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER

 Yuk! Mari Belajar Ekonomi Moneter

                                        

                                          Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter






A. Gambaran umum Transmisi kebijakan Moneter 

  1. Hakekat Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter 

   Mekanisme transmisi kebijakan moneter pada dasarnya menggambarkan bagaimana kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral mempengaruhi berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan sehingga pada akhirnya dapat mencapai tujuan akhir  yang ditetapkan. Secara spesifik, Taylor (1995) menyatakan bahwa mekanisme trasnmisi kebijakan moneter adalah "The process though which monetary policy decisions are transmited into changes in real GDP and inflations". Dalam kenyataannya, Mekanisme transmisi kebijakan moneter merupakan proses kompleks,dan karenanya dalam teori ekonomi moneter sering disebut dengan " black box" (Mishkin, 1995) seperti digambarkan dalam skema di bawah. Hal ini terutama karena transmisi di maksud banyak di pengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: perubahan perilaku bank sentral, perbankan  dan para pelaku ekonomi dalam berbagai aktivitas ekonomi dan keuangannya, lamanya tenggat waktu (lag) sejak kebijakan moneter di tempuh sampai sasaran inflasi, serta terjadinya perubahan pada saluran-saluran transmisi moneter itu sendiri sesuai dengan perkembangan ekonomi dan keuangan di negara yang bersangkutan.

                                  

        Perubahan perilaku bank sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta perilaku ekonomi, jelas  akan berpengaruh pada interaksi yang dilakukannya dalam berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan, dan kerananya akan membawa perubahan pula pada mekanisme transmisi kebijakan moneter. Bahkan dalam banyak hal, kerena menyangkut perubahan perilaku, dan ekspektasi mekanisme transmisi kebijakan moneter dimaksud diliputi oleh ketidakpastian dan relatif sulit di prediksi(Blinder 1998). Setiap perubahan kebijakan bank sentral akan diikuti atau telah dianstisipasi dengan perubahan perilaku perbankan,sektor keuangan dan para pelaku ekonomi dan keuangannya .

          Kompleksitas mekanisme transmisi juga berkaitan dengan perubahan pada peran dan cara bekerjanya saluran-saluran transmisi moneter dalam perekonomian.Pada perekonomian yang tradisional dengan peran perbankan yang msih dominan dan produknya yang relatif belum berkembang, biasanya peranan saluran uang juga masih dominan dengan pola hubungan antara berbagai aktivitas ekonomi yang relatif stabil pula. Namun demikian,dengan semakin berkembangnya perbankan dan pasar keuangan, semakin banyak pula produk  keuangan yang di transaksikan dengan jenis dengan jenis transaksi keuangan yang semakin bervariasi.

2, Transmisi Moneter dan Proses Perputaran Uang 

    kompleksitas transmisi kebijakan moneter akan bagus apa bila ditempatkan pada proses perputaran uang dalam perekonomian.Artinya dimana kaitan antara transmisi kebijakan moneter pada dasarnya menunjukkan intraksi antara bank sentral, perbankan dan lembaga keuangan lai, dan pelaku ekonomi disektor rill yang dimana melalui dua tahap proses perputaran uang yaitu;-pertama,intraksi yang terjadi di pasar keuangan, yaitu intraksi antar bank sentral dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya dalam berbagai aktivitas ekonomi di sektor keuanga.-kedua, interaksi yang berkaitan dengan fungsi intermediasi,yaitu interaksi antara perbankan dan lembaga keuangan lainnya dengan para pelaku ekonomi dalam berbagai aktivitas ekonomi di sektor rill. Kedua tahap tahap interaksi transmisi kebijakan moneter dalam proses perputaran uang tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.



3. Interaksi di Pasar Keuangan  

    Interaksi melalui pasar keuangan terjadi karena disatu sisi bank sentral melakukan pengendalian moneter melalui transaksi keuangan yang dilakukan dengan perbankan sesuai dengan arah dan sasaran kebijakan moneter yang telah di tetapkannya. Sementara di sisi lain, perbankan dan lembaga keuangan lainnya melakukan transksi keuangan untuk portofolio investasinya baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabahnya. Interaksi ini dapat terjadi baik melelui pasar uang rupiah,pasar uang valuta asing,maupun pasar modal. Adanya interaksi antara bank sentral dengan perbankan seperti ini akan berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan volume maupun harga-harga (suku bunga, nilai tukar, yield obligasi ataupun harga saham)yang terjadi di ketiga pasar keuangan tersebut. Intraksi dipasar uang rupiah terjadi ketika bank sentral,dalam melaksanakan kebijakan moneternya untuk mencapai sasaran operasional yang ditetapkan, apakah targer uang primer atau suku bunga jangka pendek. Sementara itu, bank-bank dalam pengelolaan liquiditasnya melakukan transaksi di pasar uang rupiah untuk menjaga posisi rekeningnya di bank sentral (bank reserve position)
sesuai dengan ketentuan GWM yang ditetapkan,penanaman dana dalam surat-surat berharga, maupun untuk pinjam-meminjam antar bank (PUAB).

   Interaksi dipasar valuta asing terjadi ketika di satu sisi bank sentral dalam kondisi tertentu perlu melakukan sterilisasi atau intervensi di pasar valuta asing sebagai bagian dari operasi moneter untuk mencapai sasaran operasional yang ditetapkan dan sekaligus dalam rangka upaya stabilisasi nilai tukar. Disisi lain, bank-bank dalam operasinya melakukan transaksi valuta asing baik  untuk kepentingannya sendiri ataupun untuk memenuhi  permintaan nasabahsnya.      

4. Intraksi  Melalui Fungsi Intermediasi 

    Tahap Kedua dari trasnmisi kebijakan moneter dalam proses perputaran uang melibatkan inraksi  anatara perbankan dengan para pelaku ekonomi.Hal ini terjadi karena fungsi intermediasi perbankan dalam memobilisasi simpanan dari masyrakat dan dalam menyalurkan kredit dan bentuk pembiayaan lain kepada dunia usaha. Pertama-tama interaksi ini akan berpengaruh pada perkembangan volume dan suku bunga di pasar dana dan kredit. Di sisi mobilisasi dana, interaksi tersebut berpengaruh terhadap volume dan suku bunga giro, tabungan dan deposito sehingga berpengaruh pula terhadap perkembangan  uang beredar (M1 dan M2), permintaan uang, dan tabungan masyarakat. Sebagai contoh, dalam hal perbankan ingin akan naik dan demikian pula minat dan volume simpanan akan naik dan demikian pula minat dan volume simpanan masyarakat di perbankan.Sementara di sisi penyaluran dana, interaksi tersebut akan berpengaruh pada perkembangan kredit perbankan yang disalurkan kepada dunia usaha untuk pembiayaan investasi dan produksinya. Sebagai contoh,dalam hal perbankan ingin meningkatkan ekspansi kredit,suku bunga kredit akan cendrung turun dan demikian pula minat dan volume permintaan kredit dari dunia usaha.

5. Pentingnya Transmisi Moneter Bagi Teori Dan Kebijkan Moneter
    
   Kompleksitas mekanisme transmisi kebijakan moneter seperti di uraikan di atas menurut perlunya analisis dan riset untuk memetkan bekerjanya berbagai saluran transmisi  yang ada, apakah saluran transmisi yang ada, apakah saluran uang beredar,kredit, suku bunga, nilai tukar, harga aset ataupun ekspektasi, sesuai dengan perkembangan ekonomi keuangan yang terjadi. Dalam kaitannya dengan teori dan kebijakan moneter,studi mengenai trasnsmisi seperti ini biasanya bertjuan untuk mengkaji dua aspek penting yaitu; 
Pertama adalah untuk mengtahui saluran transmisi mana yang paling dominan dalam ekonomi untuk dipergunakan sebagai dasar bagi perumusan strategi kebijakan moneter. Disini maksudnya,apabila uang beredar masih paling dominan,misalnya,maka strategi kebijakan moneter dengan penargetan uang beredar masih relevan dipergunakan.Namun demikian, apabila saluran suku bunga atau saluran nilai tukar menjadi yang paling dominan, maka perlu dipertimbangkan penargetab suku bunga atau penargetan niali tukar sebagai strategi kebijakan moneter.
Kedua adalah untuk mengetahui seberapa kuat dan lamanya tenggat waktu masing-masing saluran maupun dari saluran transmisi tersebut bekerja,baik sejak dari tindakan moneter dilakukan bank sentral ke perubahan masing-masing saluran maupun dari saluran transmisi ke perubahan transmisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
 
   

    
     


 










TEORI DAN KEBIJAKAN MONETER

Ayo! mari belajar ekonomi moneter    

                                                      

                                               TEORI  KEBIJAKAN MONETER

                                            central_banks_monetary_policy

 

 A. Pengertian Kebijakan Moneter

    Kebijakan moneter merupakan proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu misalnya menahan inflasi,mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera.Kebijakan moneter dapat melibatkan pengaturan standar bungan pinjaman,margin requiretment,kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi,stabilitas harga,pemerataan pembanguna) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran ) serta tercapainya tujuan ekonomi makro,yakni menjaga sttabilitas ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internnasional yang seimbang.

Jika kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat digunakan untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. Kebijakan moneter adalah upaya mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga.

Mencapai tujuan tersebut, Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan atau distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

B. Tujuan Kebijakan Moneter

1. Menjamin Stabilitas Ekonomi
  Pertumbuhan ekonomi suatu negara harus berjlan dengan terkontrol dan berkelanjuta.Hal ini dapat diwujudkan melalui keseimbangan arus barang/jasa dengan peredaran uang.oleh karena itu, tujuan kebijakan moneter adalah menjaga stabilitas ekonomi melalui pengaturan dan penetapan terkait peredaran uang di masyarakat
2. Mengendalikan Inflasi 
 Agar inflasi dapat ditekan, maka bank indonesia menetapkan kebijakn bertujuan mengurangi uang yang beredar di masyarakat dan menjaga ketersediaan uang di bank. sehingga salah satu tujuan kebijakan moneter adalah mengendalikan inflasi.
3. Meningkatkan Lapangan Pekerjaan 
Tujuan kebijakan moneter bank indonesia yaitu meningkatkan lapangan pekerjaan.Kestabilan peredaran uang membuat aktivitas produksi meningkat. Dengan naiknya kegiatan produksi, maka diperlikan sumber daya manusia dalam pengelolaannya.Sehingga hal ini mampu menyerap tenaga kerja dengan ketersediaan lapangan kerja 
4. Melindungi Stabilitas Harga di pasar 
Tujuan kebijakan moneter di harapkan mampu melindungi stabilitas harga pasar. Ketika haega stabil maka menumbuhkan rasa percaya masyarakat terhadap tingkat harga sekarang dan dimasa mendatang.Sehingga tingkat daya beli antar priode tetap sama. Kestabilan ini bisa diatur melalui keseimbangan  peredaran uang, permintaan barang, dan produksi.
5. Menjaga Keseimbangan Neraca Pembayaran Internasional
Kebijakan moneter tidak hanya berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dalam negeri saja, namun juga luar negeri. Salah satu tujuan kebijakan moneter adalah menjaga keseimbangan neraa pembayaran internasional.Hal ini dapat di wujudkan melalui kestabilan jumlah barang ekspor dam impor sama besarnya. Oleh karena itu, tak heran pemerintah sering melakukan devaluasi dalam hal ini.
6. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Seluruh atas kebijakan moneter diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebab demi mencapai tujuan tersebut, diperlukan berbagai kesuksesan tiap komponen. Misalnya seperti, tersedia lapangan pekerjaan, kontrol tinkat inflasi, asktivitas produksi dan permintaan barang dan lainnya.
C. Jenis-Jenis Kebijakan Moneter 
1. Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary expansive Policy)
 Kebijakan Moneter Ekspansif sering disebut kebijakan uang Longgar (easy money policy) ialah kebijakan yang mengatur jumlah uang yang dipasok dalam perekonomian. Caranya dengan menurunkan suku bunga, membeli sekuritas pemerintah oleh bank sentral, dan menurunkan persyaratan cadangan untuk bank. Kebijakan ekspansif juga akan menurunkan tingkat pengangguran dan merangsang aktivitas bisnis atau kegiatan belanja konsumen.
  Secara keseluruhan di seluruh negara, tujuan kebijakan moneter ekspansif adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan risiko inflasi akan semakin tinggi. Kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive policy) utamanya melakukan penambahan uang yang beredar dalam masyarakat agar roda perekonomian semakin berjalan cepat. Kebijakan ini mampu meningkatkan daya beli (permintaan) masyarakat dan mengurangi jumlah pengangguran pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan moneter ekspansif juga mempengaruhi tingkat pengangguran di suatu negara.
   Contohnya, kebijakan ekspansif biasa diterapkan untuk mengurangi angka pengangguran karena ketersediaan uang dalam jumlah banyak akan merangsang kegiatan bisnis sehingga pasar tenaga kerja semakin besar. Dengan otoritas fiskal, bank sentral mengontrol nilai tukar mata uang dalam negeri (Rupiah) terhadap mata uang asing. Contoh konkretnya, yaitu bank Indonesia menambah jumlah uang beredar dengan mengeluarkan lebih banyak uang cetak. Mata uang Rupiah menjadi lebih murah daripada mata uang negara lain.
2. Kebijakan Moneter kontraktif
    Kebijakan Moneter Kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy). Kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive policy) yang disebut kebijakan uang ketat (tight money policy) ialah kebijakan mengurangi jumlah uang yang beredar.

Tujuan utama dari kebijakan ini adalah menurunkan tingkat inflasi. Tujuan kebijakan moneter kontraktif adalah mengurangi jumlah uang beredar dalam perekonomian. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan suku bunga, menjual obligasi pemerintah, dan menaikkan persyaratan cadangan untuk bank.

Contoh Kebijakan Moneter di Indonesia Beberapa contoh monetary policy yang telah diterapkan di Indonesia, adalah sebagai berikut: Bank Indonesia (BI ) melakukan lelang sertifikatnya, atau bisa juga melalui pembelian surat berharga di pasar modal. UBI dapat menurunkan suku bunga jika kondisi ekonomi sesuai dengan ekspektasi. Sebaliknya, BI bisa menaikkan suku bunga bila ingin membatasi aktivitas ekonomi sehingga aliran uang berkurang.

D. Macam Macam Kebijakan Moneter

 1. Operasi Pasar Terbuka    

    Operasi pasar terbuka adalah kebijakan moneter yang dilakukan dengan cara menjual atau membeli surat berharga di pasar uang, misalnya sertifikat Bank Indonesia (SBI),Sertifikat Bank Indonesia adalah surat berharga yang di terbitkan Bank indonesia sebagai surat pengakuan utang jangka pendek dengan sistem diskonto.

2. Politik Diskonto (Discount Policy) 

    Politik Diskonto adalah kebijakan yang dilakukan dengan cara menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga kredit yang di bayar bank umum kepada Bank Indonesia. Jika diskonto naik, biaya peminjam dari Bank indonesia semakin tinggi sehingga keinginan bank umum untuki meminjam dana akan berkurang. Kebijakan ini mempengaruhi penentuan tingkat suku bunga bank kredit bank umum yang diberikan kepada masyarakat.

3.Cadangan Kas

   Kebijakan cadangan kas minimum berkaitan dengan penentuan cadangan kas bank umum sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijak ini akan berpengaruh terhadap jumah uang yang beredar. Bank Indonesia akan menurunkan ketentuan cadangan kas minimum bank umum. Kebijkan ini mendorongh bank umum untuk menyalurkan kredit dalam jumlah uang besar. Sebaliknya jika ingin mengurangi jumlah uang beredar, Bank indonesia dapat menaikkan cadangan kas minimum bank.

4.  Kredit Selektif

   Kebijakan kredit selektif berkaitan dengan upaya mengurangi jumlah uang beredar dengan cara memperketat penyaluran kredit. Berkaitan dengan upaya ini Bank Indonesia dapat memperketat syarat kredit, yaitu karakter, kemampuan, jaminan, modal, dan kondisi ekonomi. adanya kebijakan ini berdamapak pada keinginan masyarakat dan bank umum untuk meminjam uang.


5. Imbauan Moral (Moral Persuasion).

  Imbauan moral adalah kebijakan yang dilakukan dengan cara mengarahkan atau mengimbau lembaga perbankan dan masyarakat kaitannya dengan pengendalian jumlah uang beredar. Imbauan ini bertujuan agar lembaga perbankan dan masyarakat memahami kondisi ekonomi dan berkerja sama mendukung kebijakan yang diterapkan pemrintah Indonesia.

6. Devaluasi

   Devaluasi adalah kebijakan yang diberlakukan otoritas moneter dengan cara menurunkan kurs mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Tujuan pemberlakukan devaluasi adalah memperbaiki neraca pembayaran. Dengan pemberlakuan kebijakan devaluasi diharapkan harga barang ekspor menjadi lebih murah sehingga kinerja ekspor meningkat.


https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/Default.aspx

https://www.gramedia.com/literasi/kebijakan-moneter/

https://seputarilmu.com/2020/06/jenis-kebijakan-moneter.html

https://aeyogy.wordpress.com/tag/teori-kebijakan-moneter/


ASPEK KEUANGAN INTERNASIIONAL

  Yuk Mari Belajar Ekonomi Moneter !                                                                                                        ...